Buruh tak dapat di lepaskan dari yang namanya Industrialisasi. Dua kata yang berhubungan intim ini tak dapat di pisahkan, jika di analogikan dua kata tersebut bagaikan Suami dan Istri. Namun Suami dan istri ini tak pernah Menemukan Keharmonisannya.
Mengapa Mereka tak dapat hidup Harmonis???
Sebelumnya saya akan mengandaikan, Buruh adalah Seorang Istri dan Industri merupakan Suami.
Mengapa Mereka tak dapat hidup Harmonis???Sebelumnya saya akan mengandaikan, Buruh adalah Seorang Istri dan Industri merupakan Suami.
Industri/Suami yang di kuasai para kaum Bourjuis atau kapitalis sangat mementingkan Hasratnya untuk memuaskan Nafsu birahinya agar mendapatkan Laba yang sebesar-besarnya. Sang Industri memilih cara yang mereka Pelajari dari teori kapitalis. Teori kapitalis lahir dari sebuah pemikiran seorang Adam smith yang menitik beratkan pada Laize Faire dan Incredible Hand. Dimana sang Suami/Industri percaya bahwa ada tangan-tangan Yang tersembunyi dalam mengatur pasar atau ekonomi dalam sebuah negara, Sehingga mereka sangat Mengecam Pemerintah yang ikut campur dalam urusan Ekonomi. Orang-orang Kapitalis menginginkan Kebebasan sepenuhnya dalam menjalankan Bisnisnya.
Demi mencari untung/Laba yang sebesar-besarnya, industri tersebut mencari Istri/buruh yang mudah di Setubuhi demi mendapatkan Laba yang tinggi. Buruh dengan Gaji yang Murah dan jam kerja yang padat bahkan melebihi jam kerja normal. Exploitasi Berlebihan terhadap pekerja untuk menciptakan Produk-produk yang dapat di pasarkan.
Namun bukan berarti sang Istri/Buruh berdiam diri saja melihat tindakan bar-bar sang Suami/Kapitalis.
Buruh yang berpegang teguh pada Teori kesetaraan Marxisme. Teori yang di lahir dari otak Karl Marx itu merupakan Teori Perlawanan Terhadapa kapitalisme. Dimana Marxis percaya dengan kesataraan dan Kelayakan Hidup para Pekerja dan Petani. Pemerintah di minta untuk mengontrol perekonomian khusunya menciptakan Undang-Undang tentang Kelayakan Upah.
Sang Istri/Buruh selalu melawan Pada sang suami/Industri untuk di beri uang Bulanan yang Layak dan menuntuk Keadilan.
Sang Suami/Industri Selalu mengancam untuk memecat sang Istri/Buruh. Disini lah titik ketidak Harmonisan Keluarga Besar Buruh dan Industri kapitalis.
Pemerintah Seharusnya Mampu menjadi jembatan Untuk Meredam keretakan Rumah tangga tersebut. Namun Pada Kenyatannya Pemerintah berat sebelah, para Penguasa membela kaum Industri dengan menciptakan Undang-Undang dan mengeluarkan Aturan tentang Investasi dan Industri, yang isinya tetang kekuasaan perusahaan adalah tanggung Jawab Perusahaan, dan Upah buruh di tentukan Oleh Perusahaan...
Lagi-Lagi Buruh di Tindas, Rakyat melarat,, Hanya kata Lawan-Lawan Lawan,,, Mulut ini hingga berbusa penuah spermah kaum Industri,,,
Namun bukan berarti sang Istri/Buruh berdiam diri saja melihat tindakan bar-bar sang Suami/Kapitalis.
Buruh yang berpegang teguh pada Teori kesetaraan Marxisme. Teori yang di lahir dari otak Karl Marx itu merupakan Teori Perlawanan Terhadapa kapitalisme. Dimana Marxis percaya dengan kesataraan dan Kelayakan Hidup para Pekerja dan Petani. Pemerintah di minta untuk mengontrol perekonomian khusunya menciptakan Undang-Undang tentang Kelayakan Upah.
Sang Istri/Buruh selalu melawan Pada sang suami/Industri untuk di beri uang Bulanan yang Layak dan menuntuk Keadilan.
Sang Suami/Industri Selalu mengancam untuk memecat sang Istri/Buruh. Disini lah titik ketidak Harmonisan Keluarga Besar Buruh dan Industri kapitalis.
Pemerintah Seharusnya Mampu menjadi jembatan Untuk Meredam keretakan Rumah tangga tersebut. Namun Pada Kenyatannya Pemerintah berat sebelah, para Penguasa membela kaum Industri dengan menciptakan Undang-Undang dan mengeluarkan Aturan tentang Investasi dan Industri, yang isinya tetang kekuasaan perusahaan adalah tanggung Jawab Perusahaan, dan Upah buruh di tentukan Oleh Perusahaan...
Lagi-Lagi Buruh di Tindas, Rakyat melarat,, Hanya kata Lawan-Lawan Lawan,,, Mulut ini hingga berbusa penuah spermah kaum Industri,,,
0 komentar :
Posting Komentar