Kamis, 20 Februari 2014

Perbedaan Krisis Kelebihan Kapital dan Termin Konsumsi-Kurang (Underconsumption)

apa yang di maksud dengan Krisis Kelebihan Kapital? Apa Bedanya dengan Termin Konsumsi-Kurang (underconsumption) Marxis?? 

Materialisme historis didasarkan pada postulat bahwa produksi menentukan pranata-pranata ekonomi lainnya. Kalau betul Marx mengajarkan teori konsumsi-kurang, dia sudah awal-awal menampik postulat ilmu materialisme historis. Beberapa Marxis, seperti Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, Lucien Laurat, Fritz Sternberg, Paul Sweezy, atau pun Natalia Moszkowska, dan beberapa ekonom non-Marxis seperti Laderer, Foster, atau pun Keynes, adalah contoh penganut teori konsumsi-kurang dalam menjelaskan krisis kapitalis. Menurut teori ini, krisis disebabkan oleh jatuhnya tingkat konsumsi rata-rata. Menurut versi kasarnya, turunnya konsumsi rata-rata karena uang yang dibawa pulang kelas pekerja menjadi lebih sedikit sehingga sedikit pula yang bisa dibelinya. Kalo demikian ceritanya, memasukkan Marx ke dalam barisan penganut teori ini saya pikir kurang betul.


Persoalan kapitalisme bukan pada konsumsi, tetapi produksi. Alih-alih sebagai sebab krisis, kurangnya konsumsi merupakan akibat. Menurut Marx, krisis merupakan mekanisme devaluasi atau penghancuran kapital untuk memberi ruang bernafas kepada kapital yang tidak punya saluran (lagi) untuk mengembangkan diri. Kapital-uang terdevaluasi melalui inflasi, kapital-komoditi melalui pengoperasian sarana produksi di bawah kapasitasnya (undercapacity), dan tenaga kerja didevaluasi melalui pengangguran dan underemployment (lulusan D3 mengerjakan pekerjaan lulusan SMP, misalnya). Mengapa kapital terdevaluasi? Devaluasi kapital merupakan konsekuensi dari kontradiksi pokok dalam kapitalisme, yakni antara kapital dan tenaga-kerja yang berujung pada tendensi kejatuhan tingkat laba rata-rata. Kapitalis didorong berakumulasi melalui penginvestasian kembali nilai-lebih ke dalam proses produksi komoditi. Untuk memperbesar nilai-lebih yang diinvestasikan kembali, setiap kapitalis harus berupaya memenangkan pasar tempatnya merealisasikan nilai-lebih menjadi laba.

Salah satu cara pokoknya ialah dengan meningkatkan produktivitas kerja. Untuk meningkatkan produktivitas kerja, kapitalis mesti menanamkan kapitalnya lebih ke dalam sarana produksi. Peningkatan produktivitas kerja meningkatkan komposisi organik kapital yang di dalamnya kapital-konstan membesar dan kapital variabel menyusut. Peningkatan komposisi organik kapital berujung pada penyusutan tingkat laba rata-rata. Dalam konteks persaingan antarkapitalis, pada titik terujung, investasi menjadi tidak berarti lagi dalam pengertian dari setiap unit kapital yang diinvestasikan, nilai-lebihnya menjadi nol.

Pada aras makro, hal ini ditunjukkan dengan semakin rendahnya tingkat suku bunga pinjaman hingga mendekati nol persen (seperti sekarang di Amerika dan Eropa). Dalam kondisi demikian, investor memilih membekukan dananya ketimbang meminjamkannya kepada industri. Karena aliran dana ke sel-sel kapitalisme terhenti, terhenti atau susut pula kegiatan produksi riil pada umumnya. Inilah yang disebut resesi (atau depresi). Jadi, krisis terjadi karena kapasitas kapital yang terakumulasi jauh melampaui kapasitas perekonomian untuk menampungnya. Dari massalisasi produksi barang konsumsi sepanjang revolusi Fordis, terciptalah akumulasi kapital yang tidak bisa diserap seluruhnya ke dalam perekonomian riil. Peperangan, negara kesejahteraan, dan finansialisasi kapital menjadi jalan keluar dari kebuntuan akumulasi. Jalan keluar ini tidak menyelesaikan persoalan karena tendensi jatuhnya tingkat laba rata-rata di sektor riil merupakan konsekuensi kontradiksi internal kapital itu sendiri.

Seperti dibilang Marx, batas akumulasi kapital adalah kapital itu sendiri. Perlu diingat bahwa kapitalis berinvestasi demi laba, bukan amal-ibadah. Ketika perekonomian tidak bisa memberikan laba yang memadai untuk pengembangan kapital, maka pilihannya adalah memperluas pasar riil atau mendevaluasi (setidaknya membekukan) kapital yang sedang beredar dalam perekonomian melalui krisis. Seandainya populasi di planet Mars cukup besar, mungkin pilihan ketiga adalah berinvestasi di Mars. Karena sejak kemunculannya, kapital sudah berorientasi global, dan ternyata di Mars tidak ada penduduk, maka krisis merupakan jalan supaya sebagian kapital yang memenuhi ban perekonomian bisa keluar tanpa meledakkan ban itu sendiri.

Refrensi: Dede Mulyanto (Geneologi Kapital(isme) 2012)

0 komentar :

Posting Komentar