Qoute: Kesederhaan adalah kebahagiaan, memanfaatkan kemampuan yang ada untuk menjalani Hidup. manusia Tak pantas mengeluh pada Takdir.
Gang Sempit menjadi peristirahatan sang pengamen, sambil
menikmati segelas kopi, gorengan dan rokok, rutinitas yang aku sebut Surga
Dunia. Gitar yang awalnya di letakan dan di biarkan bergelantungan di atas paku
yang menempel di tembok gang sempit ini, tiba-tiba gitar tersebut terjatuh
akibat kesenggol pejalan kaki , tak terlihat raut wajah yang marah dan kecewa
dia mengambil gitar dengan senyuman. Aku duduk bersebelahan dengan dia dan
mengajak ngobrol bapak pengamen, aku memanggil dia bapak karena prediksi ku
umurnya sekitar 35tahun lebih.
Sang pengamen jalanan ini melihat gitarnya yang terjatuh
sambil mengecek apakah ada yang pecah pada tabung Gitar atau tank gitarnya
bengkok. Ternyata Gitar Tua itu tak terpengaruh atas musibah yang menimpanya,
terjatuh tapi tak tertimpa tangga.
Awalnya kita bincang-bincang biasa layaknya seorang yang
baru kenal, aku bertanya alamat rumah, asli kelahiran dan sudah berapa lama
menjadi pengamen jalanan?? Ya pertanyaan Basa-basi seorang yang ingin meminjam
gitarnya dan ingin tau lebih jauh tentang kondisi kehidupannya.
Aq: ”Ga’ pa2 gitarnya pak??
Pe: ”Ga’ pa2 mas” Terlihat senyum ramah orang jalanan. J
Aq: “Asli mana pak??”
Pe : “Asli Malang aja mas, dari daerah mendit”, Sambil
ngecek gitarnya.
Aq: “oooohhh,, naik
apa pak pulang ke mendit??”
Pe: “saya ga’ tinggal di mendit mas, saya kost di Gadang,
biar mudah tranportasinya soalnya dekat terminal
mas. Saya juga ga’ ada kendaraan buat wira-wiri cari makan mas”.
Aq: “Anak Istri bapak
juga ikut kost pak”?? Tanyaku dengan so’ tau.
Pe: “Ga’ mas, saya belum berkeluarga. Ya kerja Cuma gini aja
mas belum siap untuk keluarga”
Aq: ”Lelaki Bujang Lapok ini ceritanya”, bisik dalam hati.
“Dari jam berapa pak, biasanya start ngamen?” lanjut aku bertanya. .
Pe: “kira-kira jam 8 pagi sampe jam segini ini” Waktu itu
jam menunjukan angka 7 ba’dah isya’.
Lalu aku berpaling pembicaraan kepada Sahabat yang selalu
menemani ritual sore hari, Ngopi, Goreangan dan Diskusi kecil. Yang sering di
bicarakan biasanya soal Politik, Sosial, Agama, Dan Nona-Nona yang lewat. Ya
beginilah pemuda single, menjadi Pemuja Rahasia, hehe.
Dia mengambil Handphone di saku bajunya, memang bukan HP yang
harganya Jutaan atau keluaran terbaru dengan OS canggih macam BB dan bukan pula
android yang menjadi Trend anak muda saat ini.
Handphone yang dia gunakan harganya berkisar 200/250 ribu,
mrek ternama tapi kondisi fisik Hpnya tak bisa di bilang bagus karena penuh
isolatip berwarna hitam. Bukan Persoalan pengamen punya HP atau tidak, tapi ada
yang membuat aku terkejut.
Handphone yang di ambil dari saku bajunya tersebut di
tempelin pada tabung Gitar dan Dia memetik Senar Gitarnya satu persatu,
awalnya aku pikir dia
membaca Teks lagu yang di simpan di memory HP, Karena Dia memetik Gitar sambil
melihat HP.
Tapi aku bingung
“lagu apa yang dia mainkan??” karena petikan yang ia maenkan bukan petikan
selayaknya seorang memetik Nada lagu, melainkan petikan seorang yang lagi
menyetem/stem atau mencocokan senar gitar satu dengan senar lainnya.
Langsung aku menyeletuk dan menunda pembicaraanku dengan
sahabat sebelahku, dan bertanya pada pengamaen jalanan tersebut.
Aq: “lho, pak steam gitar ta???” Dengan Rasa Penarasan.
Pe: ”iya mas, abis jatuh tadi langsung ga’ steam”. Jawabnya
dengan santun.
Aq: “saya pikir lagi ngafalin lagu pak, soalnya Hp bapak di
letakan di tabung gitar”? sambil memakan Gorengan yang tersisa di piring.
Pe: “ga’ mas, klo
ngafalin lagu biasanya malam atau klo lagi santai di kost mas”. Memakan
Gorengan yang. baru di ambil di tempat yang di sediakan penjual
Aq: “ooh,, beranti steam gitar pake Hp pak”??
Pe: “iya mas. Ada aplikasinya mas, soalnya klo udah kondisi
capek fealing untuk steam gitar udah ga’ karuan mas, bisa-bisa ga’ pas setelannya".
Aq: “Canggih juga ni orang”, berkata dalam hati. “itu
aplikasinya namanya apa pak”??? melanjutkan pembicaraan.
Pe: “ ini nama aplikasinya Guitar Tuner mas, hanya bisa di
pake Hp merk ini aj, Hp mas ap??
Aq: “wah beda merk pak, gimana caranya pak”?? Penasaran
semakin memuncak.
Pe: “ini mas, Ini kan aplikasinya backgroundnya mirip jam,
ada jarum yang arahnya sama dengan arah jarum jam, terus petik senarnya, kalau jarumnya pas di tengah-tengah berarti udah steam/setel mas”.
Aq: “ udah lama pak ngInstal aplikasi ini”??
Pe: “ ya udah berapa tahun mas aplikasi ini keluar mas”.
Aq: “ Dapat dari mana pak? Apa di kasih temen atau download
sendiri pak”??
Pe: “ saya cari di google mas, Internet sekarang murah kalau
ukuran Hp segini mas,
paket 1000 udah dapat di pake seharian mas,
Si pengamen ini melanjutkan pembicaraannya,,,
Pe: tapi klo yang android, BB ga’ cukup mas kalau 1000 paling 1 jam udah habis paketannya”. Lalu bakar Rokok.
Si pengamen ini melanjutkan pembicaraannya,,,
Pe: tapi klo yang android, BB ga’ cukup mas kalau 1000 paling 1 jam udah habis paketannya”. Lalu bakar Rokok.
Aq: “iya pak, soalnya klo BB, android buka web atau download ukuran bandwithnya hampir sama pak kaya buka di komputer”Meng Iyakan jawabannya...
aku melanjutkan perbicangan ini yang semakin seru dan membuat penasaran!!
Aq: “Berarti bapak tiap hari daftar paketan pak”??
Pe: “Iya mas, Soalnya kan sekarang banyak di Internet yang
bisa kita cari mas. Lagu-lagu anak muda sekarang, lirik-liriknya, terus aplikasinya kan mudah sekali kalau kita cari mas”.
Aq: “iya Pak, searching di goole mudah pak, apa yang kita
cari udah banyak di situ”.Sambil Sruput kopi
Pe: “ ya di Google banyak mas, saya juga sering di Kaskus mas,
masuk-masuk forum gitu mas”.
Aq: “ waah, Kaskuser ternyata bapak ini”. Jawab ku.
Pe: “iya mas, tapi ID saya masi Newbi mas”. Sembari tertawa
dan menuangkan Kopi di atas lepek.
Aq: “udah berapa lama pak maen di kaskus”?? Sembari Hisap
Rokok.
Pe: “udah sekitar
setahun lebih mas, tapi tetep aja masi newbi mas”. mematikan batang Rokok yang
semakin pendek.
Aq: “sering masukin postingan juga di kaskus pak”??
Pe: “ ga’ mas, saya Cuma bisa komentar aja mas, kasih cendol
itu aja mas,, hehehe”. Senyum khas anak jalanan penuh bimbang untuk menghapi Esok.
Aq: “hehe, ga’apa-apa pak, Rokok pak”. Aku menawarkan Rokok.
Ternyata Dia memang mencocokan senar Gitar tersebut akibat
pengaruh benturan saat gitar itu jatuh. Di HandPhone yang sangat Sederhana itu
ada aplikasi yang di gunakan untuk mencocokan nada-nada pada Senar Gitar. Wajar
saja aku kaget melihatnya, karena selama ini yang aku tahu Aplikasi untuk
menstem Gitar terdapat pada HP yang telah menggunakan OS Canggih.
Hp yang sederhana itu sangat berguna bagi Dia, Selain dapat
di gunakan untuk berkomunikasi HP itu juga di jadikan alat untuk mensteam
gitar, searching Lagu-lagu, dan juga mencari Informasi .
Handphone yang sederhana dan Gitar yang tak bisa di bilang bagus,, membuat aku berfikir, bahwa Kesederhanaan adalah kebahagiaan. Hidup dan bertahan di tengah-tengah orang yang semakin gila menunjukan kemewahannya dan bangga menjadi manusia yang serakah. Tapi disisi lain ada orang yang mencari nafkah dengan cara sederhana,,,
Cerita ini akan berlanjut, ini hanya sebagian perbincangan aku dan si Pengamen itu. masih banyak cerita tentang dia. Bagaimana dia mempertahankan idealismenya, menjadi Korban Pabrik industri, bahkan menjadi korban aparat.
Gitar
Dengar ratap rintih gitar itu
mulai mengiang.
Gelas-gelas fajar pecah
terhempas terbanting.
Ratap rintih gitar itu
terdengar lagi.
Membisukannya?
Ah, tak ada guna.
Dia merintih: menyanyi satu lagu
seperti rintih arus
seperti rintih angin
melintas di padang salju.
Mustahil saja,
membekap mulutnya.
Dia merintih untuk
dia yang jauh di sana.
Padang pasir di selatan kepanasan,
merindukan putih bunga camellia.
Rintih anak panah lepas tanpa sasaran
malam tanpa pagi
dan burung pertama yang mati
di secabang pohon.
Oh, gitar!
Hati yang terbantai sampai mati
ditebas lima mata pedang.
Puisi dari : Frederico Garcia Lorca

0 komentar :
Posting Komentar