Bagan Sebuah Malam
Adas wangi, seringai naga, hiruk pikuk.
Aroma, isyarat itu, dan bayang gerhana.
Angkasa, bumi, dan kesendirian.
(Tangga tinggi tegak menaiki bulan.)
Berlari
Yang pergi mengembara
adalah dia: awan itu juga.
Arus yang berlari menerjang
tak sanggup menemui bintang
Yang pergi mengembara
dirinya sendiri pun terlupa.
Dan yang singgah sementara
adalah dia: mimpi itu juga.
Bumi
Kita mengembara
menembus bayang maya
cermin tak berlapis perak,
menerobos cahaya kristal
tanpa gelap mega.
Bila bunga-bunga lili
telah bertumbuhan,
bila seluruh akar-akar
bertatapan dengan bintang
dan jenazah itu tak
memejamkan matanya,
kita tak ubahnya sekawanan angsa.
Gambar Sebuah Taman II
Bulan mendamba lelaki
siapa dia bisa melupa?
Mimpi merasuki bumi
mengeras mengkristal.
Geram dan pucat pasi
mengharap laut jadi lelap
lalu menyisiri rambutnya
dengan tangis batu koral.
Ramput ikalnya bersinar
Siapa dia bisa melupa?
ada di dadanya seratus
bibir: sumber semata air.
Ada lembing raksasa
menderu memperisainya
Ada ombak tanpa gerak
laut datar tak beriak.
Tapi Bulan Sang Bulan
Bilakah dia datang lagi?
Tengok, tirai-tirai angin
gemetar tak juga berhenti.
Bulan mendamba lelaki
Siapa dia bisa melupa?
Mimpi merasuki bumi
mengeras mengkristal.
Gitar
Dengar ratap rintih gitar itu
mulai mengiang.
Gelas-gelas fajar pecah
terhempas terbanting.
Ratap rintih gitar itu
terdengar lagi.
Membisukannya?
Ah, tak ada guna.
Dia merintih: menyanyi satu lagu
seperti rintih arus
seperti rintih angin
melintas di padang salju.
Mustahil saja,
membekap mulutnya.
Dia merintih untuk
dia yang jauh di sana.
Padang pasir di selatan kepanasan,
merindukan putih bunga camellia.
Rintih anak panah lepas tanpa sasaran
malam tanpa pagi
dan burung pertama yang mati
di secabang pohon.
Oh, gitar!
Hati yang terbantai sampai mati
ditebas lima mata pedang.
Kekasih
Kekasih,
Kekasih kecilku.
Di rumahmu mereka bakar kemangi.
Engkau jauh pergi, atau tiba di sini
Aku hanya akan menutup pintu: mengunci.
Dengan kunci, perak yang murni.
Lalu kujerat dengan sehelai pita.
Di pita itu kuterakan sebuah pesan:
Hatiku ada, jauh sekali di sana.
Jangan berlalu lalang di jalanku.
Hanya angin diperkenankan melintas di situ!
Kekasih,
Kekasih kecilku.
Di rumahmu mereka bakar kemangi.
Tikungan Sungai
Aku ingin kembali ke masa kanak,
dari sana lalu ke bayang-bayang.
Burung bul-bul, maukah kau ikut?
Ayo!
Aku ingin kembali ke bayang-bayang,
dan dari situ lalu ke bunga-bunga.
Wangi, akankah juga kesana?
Ayo!
Aku ingin kembali ke bunga-bunga
dan dari sana lalu
ke hati sendiri.
Cinta, maukah kau turut bersama?
Ah, Selamat tinggal!
Keluh Kesah Bagi Ignatio Sanchez Mejias
1. Cogida dan Kematian
Petang pukul lima berdentang.
Sungguh, hari memang petang pukul lima berdentang.
Seorang bocah membentang helai putih terang
ketika petang pukul lima berdentang.
Kapur yang pucat telah tersiapkan
pada petang pukul lima berdentang.
Selebihnya kematian, kematian yang tak berkawan.
Angin menggelandang serat kapas
saat petang pukul lima berdentang.
Dan asam oksida menghabur pada kristal dan nikel
waktu petang pukul lima berdentang.
Sekarang merpati dan leopard bergumul
kala petang pukul lima berdentang.
Ada paha dengan terompet bisu
datang petang pukul lima berdentang.
Senar bas gitar dicabik kencang
ini petang pukul lima berdentang.
Lonceng racun kematian dan asam
mengepung petang pukul lima berdentang.
Sekawanan sepi di sudut-sudut
petang pukul lima berdentang.
Dan lembu jantan angkuh sendiri!
di waktu petang pukul lima berdentang.
Ketika salju yang cantik datang
kepada petang pukul lima berdentang.
Lalu cincin sapi tersaput iodin,
saat petang pukul lima berdentrang.
Kematian menabar telurnya dalam luka
saat petang pukul lima berdentang.
Saat petang pukul lima berdentang.
Tepat saat petang pukul lima berdentang.
Peti mati di atas ranjangnya
sudah petang pukul lima berdentang.
Tulang dan seruling mengulang suara di telinga
ketika petang pukul lima berdentang.
Sekarang sang lembu jantan melenguh menembus dahi
saat petang pukul lima berdentang.
Ruang bertukar warna dengan perih pedih
waktu petang pukul lima berdentang.
Di kejauhan kelemayuh datang
dijelang petang pukul lima berdentang.
Kelopak lily pada hijau kunci paha
pada petang pukul lima berdentang.
Nganga luka terbakar seperti matahari
ketika petang pukul lima berdentang.
ketika petang pukul lima berdentang.
Oh, alangkah fatalnya petang lima dentang!
Hari memang sungguh telah petang!
Telah lima dentang, pada bayang Petang!
2. Darah Berpercikan
Aku tak akan melihatnya!
Beri tahu bulan untuk datang,
karena aku tak ingin melihatnya
darah Ignacio di pasir itu.
Aku tak akan melihatnya!
Bulan membentang cahayanya.
Kuda masih saja mengabut,
banteng kelabu bercincin mimpi
cabang pohon willow tampak di barreras.
Aku tak akan melihatnya!
Maka biarkan kenangan menyala!
Menghangatkan bunga-bunga melati
sebelum sekejab kemudian memudar sendiri!
Aku tak akan melihatnya!
Sapi dari dunia yang purba
menjulurkan duka pada lidahnya
ke hidung yang berdarah
memercik di pasir,
Dan banteng dari Guisando,
separo mati separo batu
melenguh bagai dua abad
puas menjejaki bumi.
Tidak.
Aku tak akan melihatnya!
Ignacio memunggahi lantai tinggi
dengan seluruh kematian dan bahunya.
Dia mencari cahaya fajar
tapi fajar tak lagi ada tersisa.
Dia mencari dia yang percaya diri
dan mimpi yang mengganaskannya
Dia mencari tubuh rupawannya
dan menjumpai darahnya terdedah
Jangan pinta aku melihatnya!

0 komentar :
Posting Komentar