Kamis, 26 Januari 2012

Penguasa, Seni dan Budaya!!!

Setiap Kelas yang berkuasa/Siapa pun Penguasa akan menciptakan budayanya sendiri, dan karena itu akan melahirkan seni yang mengikuti budayanya. Banyak Budaya yang telah tercipta dari sebelum Masehi hingga saat ini, budaya perbudakan dari Timur, dan keantikan budaya klasik, budaya feodal Eropa zaman pertengahan dan budaya borjuis yang saat ini memerintah dunia.Berangkat dari sinilah kita harus berfikir kritis terhadap Budaya dan Seni, hingga kita dapat memahami dan mengkritisi siapa yang berkuasa saat ini, melalui Budayanya dan Seni yang dilahirkan.



Pertanyaan yang muncul ternyata tak sesederhana seperti apa yang kita lihat pertama kali. Masyarakat dimana pemilik budak adalah kelas penguasa, bertahan dalam abad-abad yang panjang. Begitu juga yang terjadi dengan feodalisme. Budaya borjuis, jika kita menghitungnya mulai dari masa manifestasinya yang terbuka dan bergolak, yaitu mulai dari periode Renaissance, telah bertahan selama lima abad, tapi baru mencapai puncak perkembangannya mulai abad ke 19, atau lebih tepatnya separuh abad 19. Sejarah menunjukkan bahwa formasi sebuah kebudayaan baru yang berpusat di sekitar kelas penguasa menuntut waktu yang lumayan dan mencapai puncaknya pada periode sebelum dekadensi politik kelas tersebut.

Jika kita melihat budaya dan seni di negri ini maka kita dapat menyimpulkan "Siapa Penguasa di Negri ini??" Kaum Bourjuis, Kaum Liberal yang dapat kita simpulkan dalam Kaum Kapitalis. Mengingat Teori kapitalis yang menitik beratkan pada Incredibel Hand (tangan tersembunyi), Teringat Peribahasa "Lempar Batu Sembunyi Tangan" mungkin kata ini yang tepat untuk menggambarkan Kaum Kapitalis.

Lantas bagai mana dengan kaum Proletar (Buruh/Tani)??? Sebagai kebalikan dari rezim perbudakan, bangsawan-bangsawan feudal, dan borjuis, kaum proletar menganggap Budaya berfikir Kritis dialektis dan menjunjung tinggi Kesetaraan adalah salah satu dari Budaya yang tercipta dikalangan kaum proletar. Budaya itu melahirkan seni, tentunya seni tentang perlawanan. Kenapa Seni kaum proletar selalu bertema perlawanan?? Perlawanan Atas Penindasan, Perlawanan Ketidak Adilan, Perlawanan untunk mencapai Kesetaraan, alasan inilah kenapa Seni-seni dari kaum Proletar selalu Kritis.

Dari Tulisan di atas semoga para pembaca dapat menilai dan menyimpukan tentang kondisi negri ini pasca Reformasi. dengan melihat karya seni yang menguasai Televisi?? dan Bagai mana Budaya Politik di kalangan elite, kongkalikong Pengusaha dan Penguasa??.


1 komentar :

  1. budaya saiki ndk kene yo shoping di mall karo ojobe. enak soale. dadine yo fucking matos ae.

    BalasHapus