Mungkin terlihat Mustahil Melawan Dominasi para Seniman kapital! Para Seniman kapital yang Orientasinya hanyalah Laba dan Pendapatan, jelas-jelas telah menghilangkan Esensi dari keberadaan seni. Seni yang Subtancinya merupakan penyampain pesan melalui hal-hal yang lebih Kreatif baik melalui Lukisan, Syair-syair Puisi dan lagu, teater, dll. Pada zaman sekarang Seni hanya di jadikan Profit Oriented. Seniman menggadaikan Ideologinya dan di manfaatkan oleh kaum-kaum bourjuis/kapitalis yang hanya mengejar Laba. Seniman yang Notebenya adalah Jiwa-jiwa Merdeka, ketika berhadapan dengan Label maka karyanya tidak lagi merdeka, dan tidak lagi utuh dari karya seninya.
Pesan yang di sampaikan Melalui karyanya tidaklah berarti apa-apa. Pesan yang disampaikan haruslah bersifat membangun kesadaran para penikamat seni. mereka yang hanya mengejar Popularitas dan keuntungan akan menciptakan Seni yang Berseragam, dan cenderung membodohi karna tidak membangun sikap kritis para pendengar.
Tidak benar jika dikatakan bahwa kita hanya menghargai seni yang baru dan revolusioner, yang menyuarakan suara para pekerja, dan omong kosong jika kita dikatakan menuntut para penyair menggambarkan cerobong pabrik, atau pemberontakan melawan kapital!! Tentu saja seni yang baru, tidak bisa tidak, menempatkan perjuangan proletariat pada perhatiannya yang utama. Tapi penjajakan seni baru tidaklah terbatas pada beberapa bidang saja. Sebaliknya, ini harus menjajaki semua seluruh lapangan dalam keseluruhan arah.
Syair-syair pribadi dalam lingkupnya yang terkecil memiliki hak mutlak untuk tetap eksis dalam seni baru. Tetapi, manusia baru tak akan bisa dibentuk tanpa adanya sebuah puisi liris baru. Tetapi untuk menciptakannya, sang penyair harus memandang dunia dengan cara yang baru. Jika Kristus atau Sabaoth saja lunglai dalam rengkuhan para penyair (seperti dalam kasus Akhmatova, Tsvetaeva, Shkapskaya dan yang lain) dan para SUFI juga mengandalkan Seni dalam Syiar menyebarkan ajarannya, Tuhan juga menggunakan Seni dan Sastra dalam wahyunya. Semua karya itu seolah-olah tidak menarik bagi manusia-manusia Baru, ini membuktikan betapa ketinggalannya lirik mereka dan betapa tidak mencukupinya mereka bagi manusia baru. Bahkan saat dimana terminologi seperti itu tidak lebih dari sekedar kata dalam menghadapi zaman, hal tersebut menunjukkan sebuah kemacetan psikologis, dan oleh karenaya berdiri dalam kontradiksi dengan kesadaran manusia baru.
0 komentar :
Posting Komentar